GRESIK — Masa anak usia dini, khususnya pada rentang usia 4 hingga 5 tahun, merupakan fase krusial yang dikenal sebagai masa keemasan (golden age). Pada periode ini, plastisitas otak manusia berada pada tingkat tertinggi, di mana perkembangan sel saraf terjadi sangat pesat dan menjadi fondasi utama bagi kemampuan intelektual, emosional, serta sosial anak di masa depan. Namun, tantangan malnutrisi dan risiko stunting di wilayah Kabupaten Gresik masih menjadi perhatian serius agar tidak menghambat potensi kognitif anak dalam jangka panjang.
Menanggapi isu strategis tersebut, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Rr. Agustien Lilawati, M.Pd, menggelar seminar sosialisasi bertajuk “Status Gizi dan Perkembangan Kognitif Anak Usia 4–5 Tahun di Gresik”. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan secara interaktif melalui platform webinar ini menyasar para pendidik Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta orang tua siswa di kawasan Gresik.
“Gizi yang adekuat bukan sekadar untuk pertumbuhan fisik semata, melainkan bahan bakar utama bagi fungsi kognitif otak. Tanpa asupan gizi seimbang yang tepat, stimulasi pendidikan sehebat apa pun tidak akan terserap secara optimal oleh anak. Pada usia 4–5 tahun, otak membutuhkan energi besar untuk proses sinaptogenesis atau pembentukan hubungan antar-sel saraf,” ujar Rr. Agustien Lilawati, M.Pd.
Kekurangan Zat Mikro Picu Daya Ingat dan Konsentrasi Lemah
Dalam pemaparannya, Rr. Agustien Lilawati menyoroti bahwa banyak orang tua dan praktisi PAUD belum sepenuhnya menyadari keterkaitan erat antara asupan gizi dengan daya serap anak di kelas. Keterlambatan kognitif sering kali berakar dari pola konsumsi yang tidak seimbang, di mana masyarakat cenderung mengutamakan kuantitas makanan daripada kualitas nutrisinya—seperti makanan tinggi karbohidrat namun rendah protein dan serat.
Beliau menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami defisiensi zat gizi mikro esensial, seperti zat besi, DHA, yodium, dan zink, cenderung menunjukkan penurunan daya ingat, kelemahan berpikir, cepat bosan, serta sulit berkonsentrasi saat menerima instruksi sederhana di sekolah.
“Sering kali anak hanya dianggap ‘kurang cerdas’ atau sulit diatur, padahal kebutuhan biologis otaknya belum terpenuhi secara maksimal dari meja makan di rumah,” tegas Rr. Agustien.
Tingkat Pemahaman Peserta Meningkat Signifikan
Melalui pengujian pre-test dan post-test yang dilakukan tim pengabdian UMG, tercatat lonjakan pemahaman yang berharga dari para peserta seminar:
- Pemahaman Zat Besi & Konsentrasi: Sebelum sosialisasi, hanya 65% peserta yang memahami pengaruh zat besi pada konsentrasi anak. Angka ini melonjak hingga 85% pasca-pemaparan materi.
- Identifikasi Risiko Gizi: Sebanyak 25% anak dari sampel data sasaran teridentifikasi memiliki risiko gizi kurang, yang berbanding lurus dengan laporan orang tua mengenai lambatnya anak dalam menyerap instruksi dasar.
- Perubahan Paradigm: Orang tua mulai menggeser pola pikir dari sekadar “memberi makan agar anak kenyang” menjadi “memberi makan untuk menutrisi otak”.
Bandeng dan Kerang Gresik: Pangan Lokal Kaya Omega-3 dan Protein
Salah satu poin krusial yang menjadi pembeda dalam seminar ini adalah strategi pemenuhan gizi berbasis potensi lokal. Kabupaten Gresik yang terkenal dengan wilayah pesisir dan tambaknya memiliki kekayaan pangan yang melimpah dan terjangkau, seperti ikan bandeng dan kerang.
Rr. Agustien Lilawati mendorong para ibu dan pendidik untuk tidak ragu mengoptimalkan bahan pangan lokal tersebut. Ikan bandeng dan hasil laut khas Gresik terbukti memiliki kandungan Omega-3, protein hewani, dan asam amino esensial yang sangat tinggi. Kandungan ini diperlukan tubuh untuk memproduksi neurotransmiter, yaitu zat kimia otak yang berperan langsung dalam meningkatkan kecepatan berpikir, konsentrasi, dan daya ingat anak.
“Kita tidak perlu bergantung pada bahan makanan mahal. Gresik kaya akan hasil tambak dan laut seperti bandeng dan kerang. Ini adalah solusi ekonomis dan bernutrisi tinggi untuk mencegah defisiensi gizi sekaligus melejitkan kecerdasan anak,” tambah Rr. Agustien.
Menantang Pola Asuh Pembiaran (Permissive Parenting)
Selain faktor ekonomi, sesi diskusi interaktif membedah kendala psikologis dalam pengasuhan. Ditemukan adanya kecenderungan permissive parenting (pola asuh pembiaran) di lingkungan keluarga, di mana orang tua demi kepraktisan kerap membiarkan anak-anak mengonsumsi makanan ringan (snack) berkalori kosong yang rendah nilai gizi.
Rr. Agustien Lilawati menekankan bahwa kedisiplinan dalam memberikan makanan bergizi seimbang merupakan bentuk stimulasi kognitif paling mendasar yang wajib diterapkan sejak dini. Sinergi antara pemenuhan gizi yang tepat dari rumah dan stimulasi lingkungan yang kondusif di sekolah PAUD menjadi kunci mutlak dalam mencetak generasi unggul di Kabupaten Gresik.
Sebagai penutup, Rr. Agustien merekomendasikan perlunya pendampingan dan edukasi berkelanjutan, khususnya bagi keluarga di wilayah dengan tingkat ekonomi rendah di Gresik, untuk memastikan pola makan bergizi dapat diterapkan secara konsisten.