Lamongan – Menanamkan jiwa kewirausahaan sejak usia dini kini menjadi salah satu strategi penting dalam membentuk generasi yang kreatif, mandiri, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan dan pendampingan bertema “Mengembangkan Edupreneur pada Anak: Tantangan dan Peluang” di TK Aisyiyah ABA Konang Glagah, Lamongan.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Id’ha Tutfi Ulkhatiata, Ayunda Sayyidatul Ifadah, dan Alvin Nur Qurrota Ayun dari Program Studi PIAUD UMG. Program tersebut dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap masih terbatasnya pemahaman guru dan orang tua mengenai konsep edupreneur serta pentingnya kolaborasi sekolah dan keluarga dalam menanamkan karakter kewirausahaan kepada anak usia dini.

Berdasarkan hasil observasi awal, sekolah sebenarnya telah melaksanakan berbagai kegiatan seperti bazar dan aktivitas kewirausahaan sederhana. Namun pelaksanaannya belum optimal karena sebagian orang tua masih memiliki keterbatasan waktu, kondisi ekonomi, serta belum memahami bentuk dukungan yang dapat diberikan kepada anak selama proses pembelajaran. Kondisi tersebut mendorong perlunya pelatihan yang mampu memperkuat sinergi antara guru dan keluarga.

Selama kegiatan berlangsung, peserta yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan wali murid memperoleh materi mengenai konsep dasar edupreneur, peluang penerapannya dalam pembelajaran PAUD, hingga tantangan yang sering dihadapi di lapangan. Pelatihan dikemas secara interaktif melalui ceramah, diskusi, Focus Group Discussion (FGD), sesi tanya jawab, dan pendampingan sehingga peserta dapat berbagi pengalaman sekaligus menemukan solusi bersama terhadap berbagai kendala yang dihadapi.

Tim pengabdian menjelaskan bahwa edupreneur bukan sekadar mengajarkan anak berjualan atau mencari keuntungan, melainkan pendekatan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai karakter seperti kemandirian, kreativitas, tanggung jawab, kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, dan kerja sama melalui pengalaman belajar yang menyenangkan sesuai tahap perkembangan anak.

Dalam sesi diskusi, guru bersama orang tua juga mengeksplorasi berbagai bentuk implementasi edupreneur yang mudah diterapkan di sekolah maupun di rumah. Beberapa contoh kegiatan yang dibahas antara lain market day, bazar sekolah, bermain peran sebagai penjual dan pembeli, hingga pembuatan produk sederhana dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Aktivitas tersebut dinilai mampu melatih kemampuan sosial, komunikasi, pemecahan masalah, serta kreativitas anak melalui pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan pemahaman yang cukup signifikan. Guru dan wali murid yang sebelumnya memandang edupreneur hanya sebagai aktivitas jual beli kini memahami bahwa konsep tersebut merupakan strategi pembelajaran karakter yang terintegrasi dengan berbagai aspek perkembangan anak usia dini. Selain itu, orang tua juga menunjukkan komitmen yang lebih besar untuk terlibat dalam pendampingan anak di rumah sebagai bentuk keberlanjutan program sekolah.

Program ini juga menghasilkan penguatan kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Guru semakin memahami perannya sebagai fasilitator pembelajaran yang mendorong anak bereksplorasi dan belajar melalui pengalaman nyata, sementara orang tua menyadari bahwa pembentukan karakter kewirausahaan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga perlu dibangun melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Meskipun demikian, tim pengabdian mencatat masih terdapat beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian, seperti keterbatasan waktu pendampingan orang tua, kesibukan bekerja, serta belum meratanya kemampuan guru dalam merancang media pembelajaran berbasis edupreneur. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan agar implementasi edupreneur tidak hanya dilakukan saat kegiatan bazar atau market day, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya pembelajaran di PAUD.

Ke depan, tim dosen PIAUD UMG berharap program serupa dapat terus dikembangkan melalui pendampingan berkelanjutan bagi guru dan orang tua, sehingga kolaborasi antara sekolah dan keluarga semakin kuat. Dengan demikian, implementasi edupreneur diharapkan mampu menjadi salah satu strategi efektif dalam membentuk karakter anak yang mandiri, kreatif, bertanggung jawab, serta siap menghadapi tantangan masa depan sejak usia dini.

By No Comment 16 Juli 2026

Leave a Reply